Dentuman Senapan Sambut 1 Suro, Ratusan Batu Akik Ikut Uji Tembak PBN
- Posting Oleh Redaksi
- Senin, 15 Juni 2026 02:06
SURABAYA (BM) - Dentuman senapan angin berulang kali memecah suasana di arena lomba uji tembak batu di Jalan Sidotopo Wetan V, Surabaya, Minggu (14/6/2026). Satu per satu gelas kaca berisi air yang di dalamnya tersimpan batu akik ditempatkan di sebuah bilik berkaca untuk diuji.
Sebagian besar gelas langsung pecah saat peluru mimis menghantam sasaran. Pecahan kaca menumpuk di dasar bilik uji tembak. Hanya beberapa gelas tampak masih bertahan. Salah satunya gelas berisi batu fosil kelor milik Haji Tuya, peserta asal Kecamatan Talango, Sumenep. Gelas itu tetap utuh dan hanya bergeser sedikit dari posisi semula.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari lomba uji tembak batu yang digelar Persatuan Batu Nusantara (PBN) untuk menyambut malam 1 Suro atau 1 Muharram. Ratusan batu dari berbagai daerah didaftarkan dalam ajang yang juga menjadi titik temu para penghobi batu akik dari berbagai penjuru nusantara. Bagi PBN, lomba uji tembak batu bukan semata soal menang atau kalah. Ajang tersebut menjadi momentum berkumpulnya para penghobi batu akik dari berbagai daerah yang selama ini hanya berinteraksi melalui komunitas masing-masing.
Tubagus Sunyoto Saputro atau Gus Sunyoto, Ketua PBN menyebut, kegiatan itu digelar untuk mempererat persaudaraan antarpenghobi batu akik. Karena itu, pihaknya sengaja mengemas kompetisi sebagai wadah silaturahmi sekaligus temu komunitas. “Lomba ini sebagai sarana silaturahmi untuk merekatkan persaudaraan, dari batu kita bersatu, dan dari cincin kita saling mengenal. Di sini sama sekali tidak ada ajang pamer kesaktian atau kuat-kuatan, melainkan murni untuk silaturahmi," ujarnya.
Momentum malam 1 Suro dipilih sebagai waktu pelaksanaan karena dinilai memiliki makna tersendiri bagi komunitas tersebut. Selain bertepatan dengan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa dan datangnya 1 Muharram, momen tersebut juga menjadi kesempatan mempertemukan penghobi batu dari berbagai daerah dalam satu arena.
Untuk memeriahkan peringatan tersebut, panitia menyiapkan berbagai hadiah, termasuk tiga unit sepeda motor bagi para pemenang lomba. “Kami menggelar ini juga untuk memperingati malam 1 Suro. Kebetulan esok sudah memasuki malam 1 Suro, jadi PBN merayakannya dengan menyediakan hadiah utama berupa tiga unit sepeda motor," kata Gus Sunyoto.
Sekitar 450 batu didaftarkan pemiliknya untuk mengikuti lomba tersebut. Batu-batu itu datang bersama pemiliknya dari berbagai daerah, mulai Madura, Jawa Barat, Banten, hingga Sulawesi. Di meja pendaftaran, peserta bergantian menyerahkan batu andalan mereka sebelum mendapat nomor urut untuk memasuki arena uji tembak.
Di dalam bilik uji, batu ditempatkan di dalam gelas berisi air. Setelah itu petugas membidik gelas menggunakan senapan angin yang dilengkapi laser penunjuk sasaran. Hasil tembakan kemudian dinilai berdasarkan pergeseran gelas dan jumlah air yang masih tersisa setelah gelas tidak pecah usai tembakan dilepaskan.
Bagi sebagian peserta, perjalanan menuju Surabaya bukan perkara dekat. Ari Aru, penghobi batu asal Serang, Banten, rela menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti lomba tersebut. Menurutnya, ajang menjelang 1 Suro seperti ini menjadi ruang berkumpul bagi para pencinta batu akik yang kini tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.
“Acara ini merupakan wadah bagi kalangan pencinta dan penghobi batu akik nusantara dengan semangat satu hobi, satu golongan, dan satu budaya Nusantara Indonesia. Melalui acara ini, kita bisa menambah saudara,” katanya.
Ia menilai kegiatan semacam itu penting untuk menjaga eksistensi budaya batu akik nusantara agar tidak semakin tergerus zaman. “Saat ini saya membawa batu dari daerah Pati, seperti jenis Jala Sutra, Ati Ayam. Ada juga batu dari Sumatra dan dari Nusa Tenggara Timur. Saya hobi ini murni dari hati, bukan karena dorongan hal-hal mistis. Tujuannya jelas, supaya kita bisa mengangkat kembali budaya Nusantara Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Haji Tuya mengaku tidak menyangka batu fosil kelor yang baru dibelinya mampu bertahan dalam uji tembak. Warga asal Kecamatan Talango, sebuah pulau kecil di timur Pulau Madura itu tampak sumringah saat menunjukkan batu miliknya yang berhasil lolos dari hantaman peluru. Menurutnya, keberhasilan batu tersebut dalam uji tembak berpotensi meningkatkan nilai jualnya. “Alhamdulillah, iya,” ujar pria dari komunitas Manggis Stone ini.
Bagi para penghobi, malam 1 Suro tidak hanya dimaknai sebagai pergantian penanggalan Jawa. Momentum tersebut juga menjadi alasan untuk berkumpul, bertukar cerita, dan menjaga persaudaraan yang terjalin dari satu hobi yang sama. Di tengah meredupnya tren batu akik, dentuman senapan di arena uji tembak itu seolah menjadi penanda bahwa komunitas batu Nusantara masih terus hidup. (arf/tit)
Komentar / Jawab Dari
Anda Mungkin Juga Suka
Populer
Newsletter
Berlangganan milis kami untuk mendapatkan pembaruan baru!
Kategori
- Politik (1625)
- Keadilan (701)
- Hukrim (1950)
- Plesir (26)
- Peristiwa (469)
- Feature (41)
- Advertorial (72)
- Nasional (2041)
- Internasional (560)
- Sports (1998)
- Ekonomi (1483)
- Jawa Timur (16444)
- Weekend (23)
- Indonesia Memilih (323)
- Selebrita (61)
- Lifestyle (290)
- Catatan Metro (206)
- Opini (174)
- Fokus (464)
- Highlight (1)
- Timur Raya (14)
- Surabaya (2753)
- Kriminal (120)
- Pasar dan Mall (759)
- tausiyah (37)
- Falcon-G21 Team Dark (0)
- Kolom Metro (2)
- Event & Promo (11)
- Giat Prajurit (16)
- Wisata (33)
- Global (10)
- Pendidikan (208)
- Hukum (23)
