Mode Gelap
Image
Rabu, 22 April 2026
Logo
Nur Aini (38), guru SDN II Mororejo di Kecamatan Tosari, Pasuruan.

"Saya Hanya Ingin Mengajar..."

Tangis Pasrah Nur Aini, Guru yang Terancam Kehilangan Segalanya di Tangan Birokrasi

PASURUAN (BM) – Di sudut ruang yang sepi, wajah Nur Aini (38) tampak lelah. Gurat kecemasan tak bisa disembunyikan dari sorot matanya yang nanar. Wanita yang seharusnya berdiri di depan kelas memegang kapur tulis itu, kini hanya bisa duduk termenung, menanti nasib yang berada di ujung tanduk.

Tidak ada lagi seragam dinas yang biasa ia banggakan. Hari-harinya kini dihabiskan membantu mertua menjual mobil bekas dan menyewakan mainan anak-anak. Bukan karena ia ingin beralih profesi, melainkan karena jiwanya sedang "sakit", terhempas oleh badai birokrasi yang mengancam akan merenggut statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kisah pilu Nur Aini bermula dari sebuah jarak. 57 kilometer. Angka itu mungkin hanya statistik bagi sebagian orang, namun bagi ibu satu ini, itu adalah perjalanan yang memeras keringat dan kesehatan. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di Bangil menuju SDN II Mororejo di Kecamatan Tosari, sebuah sekolah di dataran tinggi yang dingin.

"Tubuh saya sering sakit, Pak. Jarak itu bukan cuma jauh, tapi melelahkan fisik dan mental saya," ungkap Nur Aini lirih.

Keluhan itu sempat ia suarakan, berharap ada telinga yang mendengar. Namun, viralnya curahan hati itu justru menjadi bumerang. Kini, ia dihadapkan pada data dingin nan kaku: tuduhan tidak hadir selama 90 hari secara kumulatif. Sebuah angka yang menurut Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Pasuruan cukup untuk menjatuhkan sanksi berat, bahkan pemecatan.

Di balik data absensi itu, Nur Aini menyimpan pembelaan yang menyayat hati. Ia menolak dituding abai akan tugas. "Saya tidak terima kalau dituding sering alpha. Saya punya bukti," katanya dengan suara bergetar, Rabu (19/11/2025).

Ia merasa ada ketidakadilan. Ia merasa disudutkan oleh sistem absensi yang menurutnya telah dimanipulasi, membuatnya seolah-olah menjadi antagonis dalam dunia pendidikan yang ia cintai. Hubungannya dengan Kepala Sekolah, Endro Wibowo, pun retak. Rasa tidak percaya dan ketidaknyamanan itu membuatnya trauma untuk kembali ke tempat yang sama.

"Saya tetap ingin mengajar, tapi iklim kerja di sana sudah tidak nyaman lagi. Mental saya jatuh," akunya. Sejak kasus ini meledak, kondisi psikologis Nur Aini terguncang hebat. Ia takut, bingung, dan merasa sendiri melawan arus besar birokrasi.

Kini, pintu-pintu seolah tertutup. Nur Aini mengaku bingung harus berbuat apa lagi selain berserah diri. Satu-satunya harapan yang tersisa digantungkan pada kebijaksanaan "Bapak-nya Wong Pasuruan", Bupati Rusdi Sutejo.

"Saya bingung, Pak, apalagi yang mau diupayakan. Pasrah, sabar, dan semoga ada kebijaksanaan dari Pak Bupati," ucapnya pasrah, Jumat (21/11/2025).

Permintaannya sederhana, namun terasa begitu mahal saat ini: Ia hanya ingin tetap mengabdi mencerdaskan anak bangsa, namun di tempat yang lebih dekat, di tempat di mana ia bisa bekerja tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik dan mentalnya.(Dea/dicky)

Komentar / Jawab Dari