"Siang yang Berubah Jadi Malam": Kesaksian Mencekam Saat Semeru Kembali Mengamuk dan Menelan Gladak Perak
- Posting Oleh dicky
- Rabu, 19 November 2025 21:11
LUMAJANG (BM) – Jarum jam baru saja menunjuk pukul 16.00 WIB, Rabu (19/11/2025). Bagi warga di Dusun Kamar Kajang dan Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, sore itu seharusnya menjadi waktu istirahat sepulang dari ladang. Namun, ketenangan lereng Mahameru sore itu pecah oleh gemuruh yang datang bukan dari langit, melainkan dari perut bumi.
Dalam hitungan menit, langit yang cerah berubah menjadi kelabu pekat, lalu hitam sempurna. Matahari seolah ditelan paksa. Gunung Semeru, paku bumi Pulau Jawa itu, kembali "batuk" hebat, memuntahkan isi perutnya setinggi 2.000 meter ke angkasa.
Pertanda Alam yang Sempat Terabaikan
Sebelum kepanikan melanda, alam sebenarnya telah mengirimkan sinyal-sinyal bisu. Beberapa warga di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Besuk Kobokan mengaku merasakan hawa yang tidak biasa sejak siang hari.
"Udara terasa sumuk (gerah) sekali, tidak seperti biasanya. Angin pun seperti mati, tidak berhembus," ungkap salah satu warga yang enggan disebut namanya saat ditemui di pos pengungsian Candipuro.
Tak hanya suhu, perilaku hewan ternak juga menjadi pertanda yang kini disadari warga. Beberapa sapi milik warga dilaporkan gelisah dan terus melenguh tanpa sebab jelas satu jam sebelum erupsi. Gemuruh halus—yang awalnya dikira suara petir mendung—ternyata adalah detak jantung Semeru yang berdegup kencang sebelum memuntahkan Awan Panas Guguran (APG).
Detik-Detik "Wedhus Gembel" Menerjang
Kepanikan memuncak pukul 16.15 WIB. Teriakan takbir dan klakson motor bersahut-sahutan memecah keheningan desa. Dari arah puncak, gumpalan awan panas atau yang akrab disebut warga sebagai Wedhus Gembel, meluncur deras dengan kecepatan tinggi, menyapu jalur Besuk Kobokan.
"Gelap, Pak. Benar-benar gelap gulita seperti tengah malam. Kami cuma bisa lari sambil gendong anak, tidak ingat harta benda," tutur seorang ibu yang kini mengungsi di Kantor Kecamatan Candipuro dengan wajah masih tertutup debu vulkanik.
Ketakutan warga semakin menjadi ketika kabar buruk itu datang: Jembatan Gladak Perak kembali diterjang. Ikon konektivitas yang menghubungkan Lumajang dan Malang itu tertutup material vulkanik panas. Dalam tangkapan layar pemantauan Kepala PVMBG, Hadi Wijaya, terlihat jelas bagaimana awan panas melumat jembatan yang berjarak 13 km dari puncak itu.
"Jembatan itu nadi kami. Kalau itu kena lagi, memori kelam 2021 langsung terbayang di kepala," ujar warga lain dengan suara bergetar, mengingat tragedi empat tahun silam yang menewaskan 51 jiwa.
Respon Cepat di Tengah Kegelapan
Di tengah kekacauan, sosok-sosok penolong bergerak menembus hujan abu. Rudi, anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lumajang, adalah salah satunya. Dengan napas terengah, ia dan timnya menyisir rumah-rumah warga di zona merah.
"Fokus kami menyelamatkan nyawa. Saat ini sudah ada 22 keluarga yang kami evakuasi ke kantor kecamatan," lapor Rudi via sambungan telepon, diiringi suara hiruk-pikuk pengungsi di latar belakang.
Peningkatan status Semeru yang begitu cepat—dari Level II (Waspada) ke Level IV (Awas) hanya dalam waktu satu jam (pukul 17.00 WIB)—menunjukkan betapa seriusnya ancaman kali ini. Zona bahaya diperluas: radius 8 km dari puncak dan sektoral 20 km ke arah tenggara harus kosong dari aktivitas manusia.
Hingga berita ini ditulis, hujan abu masih mengguyur, dan warga Lumajang kembali harus tidur dengan satu mata terbuka, waspada menanti "amarah" Mahameru mereda. Bagi mereka, ini bukan sekadar fenomena geologi, melainkan ujian ketangguhan hidup di bawah bayang-bayang gunung tertinggi di Jawa. (Dicky/dea)
Komentar / Jawab Dari
Anda Mungkin Juga Suka
Populer
Newsletter
Berlangganan milis kami untuk mendapatkan pembaruan baru!
Kategori
- Politik (1625)
- Keadilan (700)
- Hukrim (1905)
- Plesir (26)
- Peristiwa (467)
- Feature (41)
- Advertorial (72)
- Nasional (2028)
- Internasional (560)
- Sports (1992)
- Ekonomi (1457)
- Jawa Timur (16378)
- Weekend (23)
- Indonesia Memilih (323)
- Selebrita (61)
- Lifestyle (288)
- Catatan Metro (206)
- Opini (174)
- Fokus (464)
- Highlight (1)
- Timur Raya (14)
- Surabaya (2739)
- Kriminal (120)
- Pasar dan Mall (759)
- tausiyah (36)
- Falcon-G21 Team Dark (0)
- Kolom Metro (2)
- Event & Promo (10)
- Giat Prajurit (14)
- Wisata (32)
- Global (10)
- Pendidikan (200)
- Hukum (23)
