Mode Gelap
Image
Rabu, 22 April 2026
Logo
The Next Smart Leader, Figur AHY Dalam Perspektif Tokoh Muda
HM Ali Affandi LNM, Ketua Kadin Surabaya

The Next Smart Leader, Figur AHY Dalam Perspektif Tokoh Muda

SURABAYA (BM) - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenkoinfra) di Pemerintahan Presiden Prabowo dikenal sebagai tokoh muda yang berhasil membangun konstruksi pemikiran serta pondasi semangat untuk tokoh-tokoh muda lainnya.

Salah satunya, H.M. Ali Affandi L.N.M, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, bahwa AHY merupakan salah satu figur pemuda yang dianggap sebagai role model dalam meniti jalan kenegarawanan di Indonesia.

“Ia bukan hanya lahir dari garis keturunan seorang presiden, tetapi juga menjalani prosesnya dengan penuh kedewasaan dan ujian. Ia pernah gagal di Pilkada Jakarta, namun tak hancur justru semakin kuat. Ia jatuh dalam berbagai gelombang politik, namun tetap tegak dengan etika dan kesabaran,” ungkap Mas Andi sapaan akrab H.M. Ali Affandi L.N.M ketika ngobrol dengan beritametro.id, Selasa (29/7/2025).

Mas Andi menuturkan, figurnya menunjukkan bahwa menjadi “anak presiden” bukanlah tiket kemudahan, melainkan beban harapan, sorotan publik, dan ujian moral yang lebih berat.

“Namun Mas AHY mampu membuktikan bahwa ia tidak hanya mewarisi nama, tetapi juga integritas dan semangat pengabdian yang otentik,” beber Mas Andi.

Bicara figur, sambung Mas Andi, perlu menyepakati karakter kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan bangsa hari ini dan esok.

“Indonesia di abad ke-21 tidak bisa dipimpin oleh sosok yang hanya mengandalkan karisma atau popularitas sesaat. Kita butuh pemimpin yang memiliki eklektisisme mampu menggabungkan beragam pendekatan kepemimpinan dan sumber ide terbaik dari berbagai disiplin, tradisi, maupun generasi,” paparnya.

“Pemimpin yang tidak terjebak dikotomi lama versus baru, elite versus akar rumput, nasional versus global, melainkan mampu menjahit semuanya menjadi narasi tunggal yang memajukan bangsa,” imbuh Mas Andi lagi.

Mas Andi menambahkan, figur AHY adalah contoh dari eklektisisme dalam praktik. Ia membawa wawasan militer, pendidikan global, tradisi demokratis, hingga nilai-nilai spiritual dan kebudayaan Indonesia.

“Dalam dirinya kita melihat sintesis antara modernitas dan kearifan lokal, antara rasionalitas kebijakan dan empati sosial. Ia mampu menjadi jembatan antar generasi, antar ideologi, bahkan antar kelompok sosial sebuah kualitas langka yang akan sangat dibutuhkan untuk memimpin Indonesia melewati berbagai tantangan geopolitik, transformasi digital, hingga krisis iklim,” ulasnya.

Sedangkan bicara politik, Mas Andi menyampaikan, bahwa dirinya percaya politik bukan sekadar alat kekuasaan, tetapi medium pengabdian untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemajuan peradaban.

“Dalam pandangan saya, kebijakan publik idealnya tidak boleh lahir dari ruang sempit kekuasaan, tetapi harus dibentuk dari kesadaran kolektif, partisipasi publik, dan keberpihakan pada kelompok yang paling rentan. Dalam konteks itulah saya melihat posisi Kemenko Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan (Kemenkoinfra) yang kini dipimpin oleh Mas AHY menjadi sangat strategis karena pembangunan tidak boleh hanya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, tapi juga untuk memanusiakan rakyat,” papar Mas Andi.

Dalam perspektif Mas Andi, AHY mendorong paradigma humanizing infrastructure membangun infrastruktur yang tidak hanya berskala besar dan mewah, tetapi juga menjangkau desa-desa, membuka akses bagi difabel, memberdayakan perempuan, dan merawat lingkungan.

“Ia konsisten mendorong pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan, selaras dengan visi Presiden untuk memastikan pembangunan tidak menjadi alat eksploitasi, tapi instrumen pemberdayaan,” tuturnya.

“Yang saya kagumi, Mas AHY tidak membawa agenda pribadi dalam jabatan publiknya—ia menjauhkan diri dari praktik transaksional dan justru merangkul semua elemen bangsa, termasuk mereka yang secara politik berbeda pandangan. Di tengah situasi politik yang sering kali terpolarisasi, kehadirannya membawa semangat moderasi dan kolaborasi lintas batas. Sebuah modal penting untuk menjawab tantangan bangsa hari ini dan esok,” pungkas Mas Andi.

Komentar / Jawab Dari